Wednesday, September 16

 

Review Film Pendek Cream dan Tilik (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Sebagaimana pandemi yang seringkali diidentikkan dengan “rebahan”, dua film yang diangkat dari sebuah realita kehidupan masa kini akan menemani waktu rebahanmu. Simak review singkatnya di bawah ini ya!

Cream (2017)

Cream (sumber gambar: youtube channel David Firth)

Jika berbicara tentang arus globalisasi, maka tidak akan jauh dari perkembangan teknologi yang semakin marak di dunia masa kini. Sebuah film Cream (2017) yang menghadirkan suatu animasi grafis berdurasi 12 menit. Film ini mengangkat realita kehidupan yang menjadi angan-angan setiap masyarakat modern saat ini.

Dr Jack Bellifer, tokoh utama dari film pendek berjudul Cream ini merupakan seorang scientist yang baru saja merilis produk fenomenal, yang ia beri nama “Cream”. Ia mengklaim bahwa Cream ciptaannya mampu menyelesaikan segala permasalahan dunia, mulai dari mengobati penyakit, memperindah fisik seseorang, atau bahkan memperbaiki berbagai benda mati seperti alat elektronik.

Cream dengan manfaat serbaguna ini diterima dengan baik oleh masyarakat luas, karena dipercaya mampu menjadi solusi mutlak dari setiap permasalahan yang ada. Sayangnya, kerasnya persaingan dunia komersil dan pemerintahan ternyata tetap tidak bisa diatasi oleh Cream.

Dianggap sebagai kompetitor dunia, isu mengenai Cream mulai meluas ke berbagai media massa, mulai dari isu yang menyatakan bahwa bahan utama dari pembuatan Cream merupakan mayat bayi hingga isu yang menyatakan salah satu penyakit berbahaya yang akan didapatkan ketika mengkonsumsi makanan hasil duplikasi Cream, yaitu penyakit AIDS.

Di akhir film pendek tersebut, dijelaskan bahwa Dr Jack Bellifer, sebagai pencipta Cream, dijatuhi hukuman untuk menghabiskan sisa hidupnya di penjara atas tuduhan pemerkosaan, menyalahgunakan ilmu pengetahuan, mengecewakan orang lain, dan membuang-buang waktu. Hingga pada akhirnya ia tidak akan menapaki kaki kembali ke dunia ilmu pengetahuan.

Apa yang Terjadi Ketika Produk ini Nyata?

Efek Samping dari Cream (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Singkat, namun bermakna. Hal inilah yang dapat saya tanggapi dari film pendek Cream yang mengangkat realita kehidupan masa kini. Dimana orang berandai-andai untuk memiliki produk serbaguna yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan mereka di dunia.

Namun, apabila memang hal ini terjadi di dunia nyata, maka jutaan efek samping yang lebih buruk justru akan mengintai dunia. Sebagian besar orang akan kehilangan pekerjaan mereka apabila tercipta suatu produk serbaguna yang mampu memperbaiki kerusakan alat elektronik atau bahkan mampu mengobati berbagai penyakit. Dunia ini tidak akan lagi butuh montir, tukang servis, atau bahkan tenaga kesehatan, bukan?

Tambahan animasi grafis pada film pendek Cream ini berhasil menciptakan vibes horor di sepanjang alur ceritanya, sebagaimana kelamnya dunia ketika suatu produk “serbaguna” hadir lalu menyebabkan masyarakat dunia ketergantungan hingga sesama manusia tidak lagi saling mempedulikan satu sama lain dan uang menjadi hal yang tak berarti lagi.

Tilik (2020)

Tilik (sumber gambar: youtube channel Ravacana Films)

Berbeda dengan genre film sebelumnya, film pendek Tilik (2020) ini diadaptasi dari budaya tilik khas masyarakat Jawa dimana masyarakat ini memiliki tradisi menjenguk beramai-ramai kerabat yang sedang sakit.

Bu Tedjo, tokoh utama dari film pendek berjudul Tilik ini merupakan salah satu masyarakat desa yang ikut untuk menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit bersama dengan sekumpulan ibu-ibu lainnya.

Namun, selain budaya tilik, ternyata film ini juga mengangkat budaya yang tidak kalah tren di masa kini, yaitu budaya gibah. Gibah ini sendiri merupakan salah satu kegiatan membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut. Apabila hal yang dibicarakan benar adanya, maka hal ini masuk dalam kategori gibah. Namun, apabila hal yang dibicarakan tidak benar atau mengada-ada, maka hal ini bisa masuk dalam kategori fitnah.

Bu Tedjo digambarkan sebagai seorang perempuan yang suka nyinyir (tukang gosip). Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit tempat Bu Lurah dirawat, berbagai topik perbincangan hadir di tengah sekumpulan ibu-ibu ini. Salah satunya adalah topik tentang Dian, seorang kembang desa yang dicurigai sebagai perempuan nakal.

Bu Tedjo berhasil menyihir penonton dengan karakternya yang toxic dan suka nyinyir. Dengan tampil ekspresif, pemeran Bu Tedjo sampai berhasil masuk ke daftar best villain character di perfilman Indonesia.

Karakter lainnya yaitu Yu Ning, sosok yang senantiasa berpikir positif dan tidak mudah percaya terhadap berita yang belum diketahui pasti bukti kebenarannya. Karakter ini seringkali beradu mulut dengan Bu Tedjo yang selalu menggosipkan hal-hal buruk tentang Dian di sepanjang perjalanan. Kalau di kehidupan nyata, kamu ada di tim Bu Tedjo atau Yu Ning, nih?

Jika dilihat dari sisi negatifnya, menyebarkan berita yang belum diketahui pasti kebenarannya akan berujung fitnah apabila ternyata berita tersebut tidak benar. Namun, jika dilihat dari sisi positifnya, gibah ini ternyata juga bisa memberikan kita informasi, terlepas dari benar atau tidaknya informasi tersebut. Karena hingga saat ini, sejatinya manusia membutuhkan hidup berkelompok untuk dapat melakukan interaksi sosial yang terkadang dapat memberikan lebih banyak informasi.

Meski sederhana, namun film pendek berjudul Tilik ini memiliki berbagai makna tersirat terlepas dari budaya tilik dan gibah ini sendiri. Yuk simak di bawah ini!

Berita Hoax

Berita Hoax (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Jika disimak dari awal, maka budaya gibah di film ini berawal dari informasi-informasi yang mereka dapatkan dari media sosial. Maraknya penyebaran informasi melalui media sosial ini terkadang menyebabkan berita hoax mudah sekali tersebar. Nah, sebagai masyarakat yang cerdas, kita perlu memilah berbagai informasi yang kita dapatkan, bukan?

Hilangnya Kebersamaan

Hilangnya Kebersamaan (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Sebagaimana budaya tilik yang diidentikkan dengan beramai-ramai menjenguk kerabat yang sedang sakit, film ini menunjukkan bahwa budaya menjenguk saat ini perlahan telah hilang, tergantikan dengan pesan “get well soon” melalui aplikasi berbasis chatting bernama WhatsApp. Tidak ada yang salah dengan perkembangan teknologi saat ini, namun hal ini mestinya menjadi sorotan masyarakat Indonesia untuk kembali melestarikan nilai kebersamaan ini, terutama di wilayah perkotaan.

Pada akhirnya, film Tilik ini berusaha mengedukasi masyarakat untuk dapat melestarikan berbagai kearifan lokal yang mungkin telah hilang tergerus perkembangan teknologi dan digital masa kini.

Nah, setelah membaca review singkat ini, jadi kamu lebih tertarik untuk menonton film yang mana? Tilik (2020) atau justru Cream (2017)? Jangan lupa tinggalkan jawabanmu di kolom komentar ya!


#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge2

32 comments:

  1. Replies
    1. sok atuh ditonton kak, bagus pesan tersiratnya 😁

      Delete
  2. ulasannya keren euu, kita satu pemikiran

    ReplyDelete
  3. Tulisannya bagus ... Makasih pencerahannya atas kedua film ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, terimakasih kembali mbak 😁

      Delete
  4. Mantap, bisa jadi bahan. Makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, terimakasih kembali mas 😁

      Delete
  5. Sudah selesai review. Aku belum.

    ReplyDelete
  6. Keren pake ilustrasi sendiri! Bagus-bagus pulak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, terimakasih mbak 😁, kalau mbak mau coba boleh pake canva, cara bikinnya ga ribet soalnya hehe

      Delete
  7. Kerennya si Firth itu adalah menjadikan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin di filmnya. Hehhe ... Namun, kalau itu beneran terjadi, rasanya dunia ini tak berwarna. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul mbak, memvisualisasikan angan-angan manusia modern masa kini kan ya 😁

      Delete
  8. suka dengan reviewnya, apalagi gambar-gambar ilustrasinya eye catching sekali

    ReplyDelete
  9. Mbak, keren sampean. Nulis tiap hari masih sempat bikin gambar2nya lucu gitu juga... hehe suka sama reviewnya

    ReplyDelete
  10. Review filmnya bagus-bagus kak, apalagi ada tambahan ilustrasinya. Bisa buat solusi ku nih ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas, sok atuh bisa dicoba juga 😁

      Delete
  11. Keren euy, ulasannya.

    Oh, ya. Di mana, karena di+kata depan, Kak. Namun, biasanya diletakkan di awal kalimat dan diawali huruf kapital.

    Sukses selalu. Gbu. 🙏😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas koreksinya kak 😁

      Delete
  12. Cream animasi nya emang bagus sih sama kayak review nya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, beda dari yg lain yaa animasi grafisnya 😅

      Delete
  13. Reviewnya bagus sekali Kaak...Ilustrasinya apalagi. Sukaaaa

    ReplyDelete
  14. menemukan sudut pandang lain dari kedua short movie itu.... kerennn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mbak 😁 semangat nulisnya!

      Delete
  15. wah keren ... cara melihat sebuah film dari gaya penulis bagus dan mengena ... shippp keren

    ReplyDelete
  16. Wah masya Allah lengkap Dan detail banget ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terimakasih mbak 😁

      Delete

Everything About Ladya . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates