Friday, October 30

Tren Menjual Rasa Kasihan (sumber: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Salah satu perasaan yang paling sulit kita abaikan adalah rasa kasihan kepada orang lain. Sebagai manusia normal, kita dilengkapi dengan hati dan perasaan yang bisa membuat kita merasa iba ketika melihat suatu kondisi menyedihkan yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar kita.

Bahkan, tidak jarang sebagian orang memiliki kecenderungan untuk menangis ketika melihat hal-hal yang menyedihkan ini. Kalau bahasa modernya sih “gak tegaan”. Orang-orang seperti ini biasanya adalah orang-orang yang mudah tersentuh perasaannya.

Sayangnya, beberapa oknum justru menyalahgunakan rasa kasihan yang diberikan orang lain kepada dirinya. Seperti halnya meminta seseorang untuk melakukan sesuatu yang memberatkannya berulang kali karena si korban tadi “gak tegaan” ngeliat si oknum kesusahan sendiri.

Berikut ini beberapa kondisi yang mungkin tidak kamu sadari bahwa kamu sudah termasuk dalam salah satu korban tren “menjual rasa kasihan” ini.

Diminta Mengerjakan Sesuatu yang Bukan Menjadi Tanggung Jawabmu

Diminta Mengerjakan Sesuatumu yang Bukan Tanggung Jawabmu (sumber: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Salah satu kondisi yang paling ketara banget sih di poin ini ya? Beberapa oknum cenderung membebankan suatu pekerjaan yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabmu. Misalnya, memintamu untuk mengerjakan tugasnya, padahal tugasmu sendiri belum selesai.

Biasanya oknum-oknum ini akan berdalih “tolong dong, katanya temen!” Hmm, sangat klise sekali ya?

Izin Tidak Ikut Serta Dalam Suatu Tugas Kelompok

Izin Tidak Ikut Serta Dalam Suatu Tugas Kelompok (sumber: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Poin selanjutnya adalah permasalahan izin. Beberapa orang mungkin memang mengalami suatu halangan yang membuat ia harus izin karena tidak bisa memenuhi janji dan tugasnya pada hari itu. Namun, beberapa oknum justru menyalahgunakan hal ini dengan mengungkapkan berbagai alasan supaya gak ikut dalam tugas kelompok tersebut.

Ada yang tiba-tiba pusing lah, ada yang tiba-tiba demam lah, atau alasan klise lainnya “aku mau nganter nyokap nih!” Hmm, pokoknya banyak deh alasan yang suka tiba-tiba muncul supaya nantinya cuma kamu dan beberapa orang yang tersisa di kelompok itu yang melanjutnya bagian dari tugasnya.

Memerintahmu Berulang Kali

Memerintahmu Berulang Kali (sumber: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Nah, kalau ini sih udah sering banget ya? Sayangnya, terkadang kita gak sadar sudah menjadi korban dari tren “menjual rasa kasihan” ini. Ketika seseorang sudah memerintahmu berulang kali, bahkan tanpa bertanya “kamu keberatan gak?” Udah fix sih, dia sama sekali gak mementingkan perasaanmu, yang dia tahu cuma “yang penting kamu mau disuruh”.

Cara Mengatasi

Cara Mengatasi (sumber: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Setelah membaca beberapa kondisi di atas, jadi gimana? Apa kamu termasuk salah satu di dalamnya? Kalau iya, jangan khawatir, beberapa tips di bawah ini akan membantumu untuk keluar dari korban tren “menjual rasa kasihan” ini.

Try To Say “No!”

Beberapa orang mungkin khawatir untuk mencoba bilang “tidak” karena takut dianggap “gak setia kawan”. Padahal, jika hal ini justru memberatkan dirimu lebih jauh, sebaiknya beranikan diri untuk mengatakan bahwa kamu belum bisa membantunya pada saat itu. Toh, di lain waktu ketika kamu sedang free pasti kamu akan berusaha membantunya, bukan?

Mengukur Kemampuan Diri

Tips selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah mengukur kemampuan diri. Ketika kamu memiliki suatu deadline yang harus kamu kerjakan saat itu juga, lalu datanglah orang lain yang berusaha men-distract-mu dari pekerjaan tersebut, maka sebaiknya tentukan prioritasmu saat itu juga.

Again, it’s okay to say no. Hanya kamu sendiri yang bisa mengukur batas kemampuanmu untuk dapat mengerjakan dua hal sekaligus. Jika memang dirasa saat itu kamu sangat sibuk dan memiliki deadline dalam waktu dekat, maka sebaiknya bicarakanlah hal ini baik-baik pada dirinya.

Memberinya Pengertian

Last but not least, kamu harus memberi oknum-oknum seperti ini pengertian. Beri tahu padanya ada saat-saat tertentu dia harus mengerjakan segala sesuatu yang menjadi kewajibannya sendiri. Tidak semua kondisi harus melibatkan orang lain di dalamnya hanya atas dasar alasan “katanya temen!”

Iya, tahu kok, temen, tapi teman yang baik tidak akan membeban dirimu sejauh itu. Mereka pasti juga memikirkan perasaanmu pada saat itu. Nah, jika setelah kamu memberinya pengertian lalu ia marah dan pergi dari hidupm maka jangan salahkan dirimu, dia memang gak pantas aja kok jadi temanmu, you deserve better!

 

IndahLadya


Baca Juga:

It's Okay To Sat No!
Self Love : Ini Masalah Penerimaan Diri
Cara Menghindari Overthinking
Pemalu vs Introvert

8 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Baru tau ada tren ini..
    Gak tau sih ya, Kak..
    Cuma ya, terkadang, kayaknya gak ada salahnya melakukan sesuatu berlebihan, toh akhirnya kita juga yang dapat..
    Menurut saya, lbh bagus diam dan kerjakan, daripada harus ribut sana sini..
    dan malah akhirnya tugasnya g kelar"..

    ReplyDelete
  3. Lika liku dalam pertemanan sering kejadian,kalau pertemanan dirasa kurang sehat, lebih baik mundur perlahan, demi kebaikan bersama

    ReplyDelete
  4. Bener nih. Saya yang dasarnya nggak tegaan, sekarang baru mencoba buat bilang tidak pada sesuatu yang nggak sesuai dengan diri saya. Dan, betapa leganya diri ini :)

    ReplyDelete
  5. Paling susah say "No!". Aku termasuk yes man ism. Kalau aku milih jaga jarak sama orang2 yg suka memanfaatin kebaikan kita.

    ReplyDelete
  6. Karena masyarakat kita tuh masih sungkan untuk bilang TIDAK, makanya hal kaya gini jadi trend. Lah, emang susah juga sih bisa tegas bilang TIDAK untuk sesuatu yang tidak kita suka.

    ReplyDelete
  7. Bilang TIDAK memang susah. Suka nggak enakan, padahal yg dirugikan diri sendiri

    ReplyDelete
  8. Aku juga termasuk kategori orang yang ngga enakan. Sampe dibully ama temen-temen. Susah emang berkata TIDAK hahaha

    ReplyDelete

Everything About Ladya . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates