Wednesday, October 7

Hujan (sumber gambar: dokumentasi pribadi indahladya.com)

Dengan kesal, aku menyeruput kembali kopi buatanku tadi pagi. Aku bertanya-tanya, mengapa di hari pertama tahun baru 2020 ini hujan masih tak kunjung reda. Ntahlah, tapi aku benci sekali dengan hujan.

Langit menjadi gegap gempita, matahari pun menghilang, diiringi petir dan kilat yang saling menyambar.

Kepalaku mendadak pusing, hingga akhirnya seseorang dengan suara yang tak asing lagi menyapa,

“Masih berkutat di satu draft?” Tanyanya.

“Eh, iya, Mas, gak bisa konsen nih, hujannya berisik!”

Seperti biasa, aku dengan omelanku setiap pagi karena artikel permintaan klien yang tak kunjung usai, ntah apa yang salah dengan diriku, untuk menyelesaikan satu artikel saja aku sudah kewalahan. Ditambah gemuruh hujan yang membuat aku semakin menyalahkan keadaan.

Dan kamu, tetap dengan senyuman itu. Senyuman yang menghangatkan, senyuman yang seolah selalu berkata, “gapapa, kan berproses, semangat ya bikin artikelnya!”

“Mas Candra gak minum kopi juga?” Tanyaku padanya sembari memandangi layar laptop, mencoba menuangkan isi pikiranku ke dalam artikel di sana.

“Nggak, Dek, Mas nggak haus.” Ucapnya.

“Ah, iya, syukurlah. Kebetulan kopi kita sedang habis, Mas. Dan siapa juga yang mau keluar di tengah hujan deras begini?” Kamu pun tertawa lalu kembali dengan kesibukanmu seperti biasa, memandangiku yang sedang pusing dikejar deadline.

Aku bersyukur sekali memiliki suami sepertimu, Mas. Suami yang selalu siap siaga mendekap aku ketika tengah gusar di tengah pekerjaan yang aku rasa tak pernah ada habisnya.

Aku senang mengenang semuanya tentang kita, coffee shop pertama yang kita singgahi, film pertama yang kita tonton, bunga pertama yang kamu berikan padaku. Namun, tidak dengan kenangan kita tentang hujan.


***


Tak lama kemudian, petir bergemuruh disertai kilat yang menyambar, terlihat jelas dari celah jendela yang setengah tertutup tirai.

“Loh, Mas, mau kemana? Di luar masih hujan, loh!”

“Hujannya sudah reda, Mas pergi dulu ya!”


*Tok..tok..tok..


“Eh, iya, Mbak, kenapa?” Saking lamanya melamun, aku sampai tak sadar bahwa seseorang telah lama mengetuk pintu kamarku.

“Dek, hujannya udah reda nih, kita ziarah dulu yuk!”

 

***

 

Desember 2017,

Hujan lebat yang membuat kecelakaan lalu lintas menjadi sesuatu yang tak terelakkan, dan merenggut nyawa salah seorang korban bernama Candra. 


#OneDayOnePost

#ODOP

#ODOPChallenge5

30 comments:

  1. Hoalah kok jadi sedih gini... Semacam nostalgia yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, iya betul mbak, hujan yang membawa kenangan :)

      Delete
  2. Akhirnya bikin kaget mbaa..tapi aku suka tulisannya 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah alhamdulillah, terima kasih mbak 😁

      Delete
  3. Waaah endingnya enggak nyangka. Keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe alhamdulillah mbak, terima kasih 😁

      Delete
  4. Mba indaaah....aku terkejut endingnyaaa....sukaa sih tulisannyaa...semangat selalu mbaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, semangat juga buat mbaknya! 😊

      Delete
  5. unpredictable ending, suka... suka... suka... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terima kasih mas 😁

      Delete
  6. Masya Allah bagus sekali mb tak terbayangkan akhirnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terima kasih mbak 😁

      Delete
  7. Hujan, 2% air, 98% kenangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, iya betul mbak, kalo hujan bawakannya mau flashback

      Delete
  8. Hemmmmmm bagus sekali..... MaasyaAllah. Ada baper2 nya hehehe... kehidupan keluarga itu asyik ya;)
    Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, asik sih kayaknya, tapi saya belum nyoba juga, masih single, hehehe

      Delete
  9. Ending yang nggak ketebak...duh sediiihhhh

    ReplyDelete
  10. Wah, ternyata kenangan. Sebuah kenangan yang indah. Masa kini penuh kesedihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, karena hujan tempatnya mengingat semua kenangan, hehe

      Delete
  11. ih sama mbak idenya juga tentang hujan, bolehlah main ke blogku..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, boleh deh saya berkunjung nanti mbak

      Delete
  12. kalau ada lanjutannya aku penasaran nih, Candra meninggal itu sebagai siapanya tokoh aku, dan aku penasaran kenapa tokoh aku sangat benci dengan hujan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Candra itu suaminya tokoh "aku" mbak, dia benci hujan sebab dia kehilangan suaminya karena kecelakaan saat hujan itu

      Delete
  13. Kematian selalu meninggalkan kesedihan

    ReplyDelete

Everything About Ladya . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates