Wednesday, May 12

Pengaruh Tradisi Salam Tempel
Pengaruh Tradisi Salam Tempel (indahladya.com)

Tradisi salam tempel ini sudah bukan menjadi hal yang tidak biasa lagi bukan? Bahkan sepertinya tradisi ini sudah menjadi hal yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang di hari raya, terutama oleh anak-anak.

Tapi kira-kira tradisi ini awalnya dari mana sih? Dan kira-kira ada dampaknya gak ya terhadap anak-anak itu sendiri? Untuk lebih lengkapnya, simak penjelasannya berikut ini ya!

Asal Muasal Tradisi Salam Tempel

Asal Tradisi Salam Tempel
Asal Tradisi Salam Tempel (indahladya.com)

Banyak pendapat yang menyatakan mengenai asal muasal tradisi salam tempel ini sendiri. Ada yang berkata bahwa tradisi salam tempel ini berasal dari orang Tionghoa yang terbiasa memberi angpao di hari raya mereka.

Meskipun ada sebagian lagi yang berpendapat bahwa sebenarnya ini sudah menjadi salah satu tradisi orang Arab yang biasa disebut sebagai Eidiyah. Terlepas dari asal muasal tradisi ini, maka sebenarnya tradisi ini diadaptasi oleh masyarakat Indonesia menjadi pembagian amplop di salah satu hari raya umat muslim nih, yang biasanya lebih kita kenal sebagai THR.

Kesalahan dalam Mengaplikasikan Tradisi Salam Tempel

Kesalahan Tradisi Salam Tempel
Kesalahan Tradisi Salam Tempel (indahladya.com)

Tradisi salam tempel dilakukan dengan memberi salam yang disertai dengan uang (amplop berisi uang) ketika bersilaturahmi saat hari raya. Sebenarnya tidak ada yang salah sih dari tradisi satu ini. Apalagi tradisi ini memang sudah biasa dilakukan secara turun temurun dan menjadi momen yang dinantikan-nantikan oleh setiap orang.

Sayangnya, saking “terbiasanya” tradisi ini, terkadang para orang tua menjadi lupa akan makna dari salam tempel ini sendiri.

Kalian pernah dengar orang tua yang bilang begini ke anaknya belum?

“Ayo ke rumah nenek, biar nanti dikasih uang sama nenek!”

“Ajak temen-temennya bertamu tuh, biar dapet THR yang banyak!”

Hayo, sudah terbiasa mendengar kalimat tersebut bukan? Nah, kalimat-kalimat seperti inilah yang membuat anak berasumsi bahwa tujuan silaturahmi yang sebenarnya adalah untuk uang. Padahal kan seharusnya tidak demikian ya, Moms?

Menanamkan "Mental Peminta" pada Anak

Menanamkan Mental Peminta
Menenamkan Mental Peminta (indahladya.com)

Tanpa kita sadari, kesalahan dalam mengaplikasikan tradisi salam tempel ini justru bisa menanamkan mental peminta-minta pada anak. Bayangkan, anak usia di bawah 7 tahun biasanya tidak bisa berpikir seobjektif kita loh. Ketika kamu menanamkan kalimat-kalimat yang di atas tadi, maka mereka akan mencerna kalimat tersebut dengan makna yang sebenarnya.

Dan ketika kamu tidak membantu dalam meluruskan makna dari kalimat tersebut, maka selamanya sang anak akan berasumsi bahwa tujuan mereka bersilaturahmi ya hanya sekedar untuk mendapatkan uang / THR dari paman dan bibinya.

Baca Juga : Mengapa Anak Menjadi Tidak Jujur?

Atau contoh sederhananya lagi nih. Pernah lihat anak yang ngambek karena gak dikasih THR sama orang yang ia kunjungi rumahnya? Waduh, bisa malu banget kan, Moms?

Eits, sebelum menyalahkan anak lebih jauh, yuk introspeksi diri dulu ya! Siapa tahu pola pikir anak yang terbiasa meminta-minta ini justru karena asumsi mereka dari kalimat yang biasa kita ucapkan kepada mereka sendiri loh.

Memicu Kompetisi Antara Kakak dan Adik

Memicu Kompetisi Antar Anak
Memicu Kompetisi Antar Anak (indahladya.com)

Kesalahan dalam mengaplikasikan tradisi salam tempel ini juga bisa memicu kompetisi antara anak-anakmu sendiri loh. Bayangkan, biasanya si adik cenderung akan mendapatkan uang THR yang lebih banyak dibandingkan si kakak. Nah, biasanya si kakak jadi suka ngambek nih, karena biasanya si adik sering ngepamerin hasil THR dia. Sering banget terjadi kan ya?

Cara Memberi Penjelasan Tradisi Salam Tempel pada Anak

Memberi Penjelasan ke Anak
Memberi Penjelasan ke Anak (indahladya.com)

“Tradisi Salam Tempel Tidak Sepenuhnya Salah Asalkan Anak diberi Edukasi dengan Benar”

Dari beberapa percontohan di atas, sebenarnya tidak bisa membuat kita berkata bahwa tradisi ini adalah tradisi yang salah ya! Karena sebenarnya jika para orang tua bisa memberikan pengertian lebih terhadap tujuan dari tradisi ini justru akan membuat anak paham bahwa mereka bersilaturahmi di hari raya bukan sekedar untuk uang semata.

Jadi, poin pentingnya adalah “memberi pengertian” kepada anak. Nah, kamu penasaran gak nih gimana sih cara memberi pengertian yang baik kepada anak mengenai tradisi salam tempel ini sendiri? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Beri Pengertian Bahwa Uang Bukan Persoalan Utama

Hal pertama yang harus anak pahami ketika mendapatkan THR atau salam tempel ini adalah uang bukanlah persoalan utamanya. Beri anak pengertian bahwa mereka bersilaturahmi ke rumah anggota keluarga mereka bukan karena mengincar THR nya saja. Namun, lebih untuk mempererat hubungan antar keluarga itu sendiri.

Beri anak pengertian bahwa pada saat hari raya kita biasanya mengunjungi anggota keluarga kita yang lainnya untuk saling bermaaf-maafan. Terlebih lagi, untuk beberapa anggota keluarga yang mungkin saling terpisah jauh antara satu sama lain. Nah, momentum hari raya ini bisa banget dijadikan untuk saling bertemu dan bertegur sapa kembali, yang jika di hari biasa mungkin akan sangat sulit untuk dilakukan.

2. Jelaskan Tujuan dari Pemberian Uang Tersebut

Hal yang harus kamu perhatikan sebagai orang tua yang berikutnya, yaitu menjelaskan tujuan dari pemberian uang THR itu sendiri. Kamu bisa memberi anak pengertian bahwa uang ini sebagai tanda terima kasih karena ia sudah mencapai puasa yang full selama bulan Ramadan tahun ini. Atau mungkin uang THR itu diberikan karena ia sudah membantumu selama mempersiapkan makanan menjelang berbuka puasa selama bulan Ramadan.

Terlepas dari apapun penjelasan tujuan yang akan kamu ungkapkan pada anak, pastikan bahwa hal ini membuat anak mengerti bahwa sejatinya ia tidak bisa memperoleh uang secara cuma-cuma, they have to do something to fight for!

Nah, penjelasan akan tujuan seperti ini bukan berarti tidak memiliki manfaat apapun loh. Justru hal ini akan mengantisipasi anak agar tidak memiliki mental peminta-minta, sebagaimana yang kita khawatirkan sebelumnya tadi.

3. Uang Lebaran Tidak Untuk Dibanding-Bandingkan

Menjawab kekhawatiran para orang tua akan anak-anak mereka yang mungkin akan saling membandingkan hasil uang lebarannya, maka hal yang satu ini perlu banget untuk kita edukasi kepada anak.

Beri anak pengertian bahwa uang lebaran yang mereka dapatkan adalah rezeki dari Allah SWT yang sebaiknya tidak untuk dibandingkan antara satu dan yang lainnya. Apalagi jika tradisi membanding-bandingkan ini terjadi antara si kakak dan si adik sendiri. Kamu sebagai orang tua harus siap pasang badan agar tidak terjadi kecemburuan sosial antara anak-anakmu nantinya.

4. Menyadari Cara Berpikir Anak Sesuai Usia

Last but not least, sebenarnya hal utama yang perlu kita pahami ketika akan memberi pengertian dari tradisi salam tempel kepada anak adalah dengan menyadari cara berpikir anak itu sendiri.

Terutama untuk anak yang berusia di bawah 7 tahun. Di usia ini anak akan sulit berpikir secara objektif, seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Dan tragedi saling membandingkan pun biasanya tidak bisa kita hindari.

Mungkin pemilihan bahasa yang pas adalah hal paling tepat yang harus dilakukan. Beri pengertian pada anak bahwa uang lebaran itu mereka dapatkan sebagai bentuk penghargaan atas usaha mereka dalam berpuasa. Dan jika uang tersebut mereka dapatkan dari anggota keluarga yang lainnya, maka itu adalah rezeki yang telah Allah SWT berikan kepada mereka. Nah, karena rezeki setiap orang berbeda-beda, maka sebaiknya sebesar/sekecil apapun jumlah yang mereka dapatkan, harus tetap disyukuri dan sebaiknya tidak untuk dipamerkan.

Baca Juga : 7 Cara Mendisiplinkan Anak, Sudah Coba Trik Ini Belum?

Nah, jika kamu masih kebingungan dalam memilihkan kalimat yang tepat, mungkin kamu bisa mencoba mengatakan “Adik, uang ini sebaiknya tidak untuk dipamerkan kepada yang lain ya. Kalau temen-temen adik tidak dapat uang sebanyak adik, nanti mereka jadi sedih. Adik gak mau kan temennya jadi sedih?”

Atau, jika case-nya justru terbalik, yaitu ketika si kakak yang merasa cemburu dengan jumlah uang lebaran milik adiknya, maka kamu sebagai orang tua bisa mengatakan, “Kakak juga dulu uang lebarannya sebanyak itu kok, mungkin kakak lupa ya?”

Yang jelas, kamu harus memberikan pengertian yang baik kepada anak dengan menyesuaikan usia mereka pada saat itu. Percayalah, meskipun awalnya sulit, namun pada akhirnya anak akan memahami makna dari penjelasan-penjelasan yang kamu ucapkan kepada mereka. Ingat, kuncinya adalah konsisten ya!

Nah, kamu punya pengalaman yang lain dalam memberi pengertian tradisi salam tempel pada anak? Ceritakan pengalamanku di kolom komentar ya, siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua lainnya. Happy sharing!

 

Referensi:

https://www.haibunda.com/parenting/20170615154642-62-6178/memberi-penjelasan-soal-salam-tempel-lebaran-ke-anak

3 comments:

  1. Wah asli bisa bahaya klo salah paham sama tradisi ini ya

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah anak-anak saya sampai sekarang masih 'belum ngerti' sama uang, jadi mau dikasih uang seberapapun sama saudara ya akan langsung dititip ke orang tuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, nanti bisa pelan-pelan dikenalkan value dari uang ini sesuai usia anak ya kak :)

      Delete

Everything About Ladya . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates