Thursday, January 28

Orang Tua Rasa Sahabat
Orang Tua Rasa Sahabat (indahladya.com)

Siapa sih di dunia ini yang tidak mau memiliki hubungan yang dekat dengan anaknya? Setiap orang tua pasti menginginkan anak mereka untuk bisa terbuka dan menceritakan banyak hal yang mereka alami, selayaknya seorang sahabat yang tengah menceritakan pengalaman hidupnya.

Namun, tidak banyak orang tua yang secara tidak sadar telah membentuk dinding pembatas yang begitu tinggi antara hubungan orang tua dan anak itu sendiri. Alhasil, sang anak biasanya jadi cenderung takut dan segan untuk menceritakan beberapa hal yang telah ia lalui di hari itu.

Hal-hal yang bisa menjadikan renggangnya hubungan orang tua dan anak bisa disebabkan oleh waktu yang diberikan pada anak terlalu sedikit sehingga anak merasa kekurangan quality time dengan orang tuanya sendiri, atau bisa disebabkan oleh orang tua yang terlalu cepat berapi-api sebagai akibat masalah kantor yang sering dibawa masuk ke dalam rumah mereka.

Beberapa faktor penyebab tersebut bisa menciptakan batasan antara anak dan orang tua sehingga anak menjadi cenderung lebih tertutup dengan orang tuanya sendiri. Nah, untuk menghindari hal tersebut, kamu bisa menerapkan beberapa tips di bawah ini untuk menciptakan environment yang baik antara orang tua dan anak. Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Menjaga Komunikasi Dengan Baik

Menjaga Komunikasi Dengan Baik
Menjaga Komunikasi Dengan Baik (indahladya.com)

Komunikasi adalah kunci utama dari sebuah hubungan yang sehat. Entah dalam hubungan percintaan, pertemanan, dan bahkan dalam hubungan anak dan orang tua. Komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang baik pula.

Dengan membiasakan untuk mengajak diskusi anak tentang berbagai macam hal, maka dapat menimbulkan rasa kepercayaan diri pada anak untuk mengungkapkan pendapat mereka di kemudian hari.

Kamu bisa mencoba mengajak anak untuk berdiskusi mengenai hal-hal sederhana, seperti ketika akan menentukan destinasi liburan kalian, outfit yang akan kalian pakai ketika akan hangout bersama, atau bahkan ketika memilih menu masakan di hari itu.

Hal-hal sederhana seperti ini tentunya akan membangun kedekatan antara orang tua dan anak sehingga nantinya anak tidak lagi merasa segan ketika akan bercerita mengenai masalah yang ia hadapi ke depannya.  

Menjadi Pendengar yang Baik

Menjadi Pendengar yang Baik
Menjadi Pendengar yang Baik (indahladya.com)

Masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Untuk menjadi orang tua yang baik, kamu perlu menjadi pendengar yang baik pula bagi sang anak. Seorang anak yang merasa didengarkan dan diterima oleh orang tua mereka sendiri, maka mereka akan cenderung tidak mencari telinga di tempat lain.

Karena terkadang ketika seorang anak menceritakan masalah yang ia hadapi di hari itu, biasanya mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, tidak melulu menuntut solusi. Hal ini juga bisa menjadi pertimbangan para orang tua untuk tidak langsung menimpa mereka dengan beban nasehat ketika anak tengah menceritakan masalahnya.

Kamu bisa mencoba untuk memberikan pengertian pada anak bahwa kamu akan selalu ada, bahkan di titik terendah sang anak sekalipun. Dengan demikian, hal ini bisa membangun keterbukaan antara orang tua dan anak.

Tidak Segan Untuk Meminta Maaf

Tidak Segan Untuk Meminta Maaf
Tidak Segan Untuk Meminta Maaf (indahladya.com)

Tidak sedikit orang tua yang secara tidak langsung memasang batasan tersendiri antara mereka dan anaknya. Perasaan untuk merasa lebih tinggi dan tidak terkalahkan dari sang anak hanya akan membuat anak takut dan segan untuk dekat dengan orang tua mereka.

Terlebih lagi beberapa orang tua yang sungkan untuk meminta maaf pada anak karena merasa hanya anak yang perlu meminta maaf pada orang tuanya. Padahal, apabila kamu mampu mencontohkan sikap rendah hati dan mau meminta maaf terlebih dahulu pada anak, maka kamu secara tidak langsung sudah membentuk mindset dalam diri anak untuk mau menurunkan ego mereka.

Hal yang perlu diingat di sini adalah anak mungkin bukan pendengar yang baik, karena terkadang beberapa perintah yang diutarakan oleh orang tua mereka cenderung tidak sepenuhnya mereka patuhi. Namun, anak adalah peniru yang ulung. Jadi, ketika kamu menginginkan anak yang mau menjadi seseorang yang pemaaf, maka kamu perlu mencontohkan hal tersebut terlebih dahulu.

Melibatkan Anak Dalam Melakukan Pekerjaan Rumah

Melibatkan Anak Dalam Pekerjaan Rumah
Melibatkan Anak Dalam Pekerjaan Rumah (indahladya.com)

Hal yang bisa kamu coba selanjutnya adalah dengan melibatkan anak ketika melakukan pekerjaan rumah. Selain mendidik anak menjadi seseorang yang lebih mandiri, hal ini juga bisa membangun kedekatan antara anak dan orang tua, karena akan ada lebih banyak waktu yang bisa kalian habiskan bersama ketika mengerjakan pekerjaan rumah tersebut.

Memberikan Apresiasi Pada Anak

Memberikan Apresiasi Pada Anak
Memberikan Apresiasi Pada Anak (indahladya.com)

Sebagian anak merasa bahwa lingkungan keluarga mereka tidak mampu memenuhi kepuasan batin dalam diri mereka, terutama dalam hal apresiasi. Minimnya apresiasi yang diberikan oleh orang tua kepada anak akan membuat anak menjadi tidak percaya diri. Apalagi jika orang tua tersebut cenderung membandingkan pencapaian anak orang lain dibandingkan anak mereka sendiri.

Percayalah bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini, termasuk kamu sendiri sebagai orang tua, yang mau dibandingkan dengan orang lain. Oleh karena itu, hindari untuk membanding-bandingkan pencapaian dan prestasi yang dimiliki oleh sang anak hanya karena hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan harapanmu.

Karena di balik hasil tersebut, sang anak tentunya sudah mengupayakan hal terbaik. Hanya saja, mungkin memang sang anak tidak begitu ahli dalam bidang tersebut. Memarahi dan membandingkannya dengan orang lain hanya akan membuat anak menjadi pesimis dan tidak mau berusaha lebih.

Oleh karena itu, biasakan untuk mengapresiasi setiap hasil dan karya yang dibuat oleh sang anak untuk membangun rasa optimis dalam dirinya. Dan hal yang perlu kamu ingat bahwa kamu memegang peranan sangat penting dalam membangun kepercayaan diri mereka sebagai anak.

Memberikan Ruang Privasi

Memberikan Ruang Privasi
Memberikan Ruang Privasi (indahladya.com)

Sebagai orang tua yang baik, kamu perlu mencontohkan hal yang baik terlebih dahulu. Membuka pintu kamarnya tanpa izin tentunya sudah melanggar privasi dari anak itu sendiri. Usahakan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar mereka. Hal ini akan membentuk mindset dalam diri anak agar menjadi lebih sopan dan hormat kepada banyak orang, termasuk dirimu sendiri sebagai orang tua.

Nah, jadi jangan marah-marah dulu ya kalau sang anak seperti tidak mau menghormati dan menghargaimu sebagai orang tua. Karena bisa jadi hal tersebut disebabkan karena kamu sendiri yang belum bisa menghargai privasi anakmu.

Mempertegas Bahwa Kamu Akan Mencintainya Dalam Segala Kondisi

Mencintai Dalam Segala Kondisi
Mencintai Dalam Segala Kondisi (indahladya.com)

Banyak orang tua yang mengancam anaknya yang nakal dengan kalimat, “kalau kamu pinter, mama sayang kamu. Tapi kalau kamu nakal, mama gak sayang lagi”. Nah, siapa nih yang pernah mengucapkan kalimat di atas?

Sebaiknya kalimat tersebut jangan sampai kamu ulangi lagi ya! Hal ini hanya akan membentuk mindset bahwa orang tua mereka hanya mencintai dan menyayangi mereka dalam situasi dan kondisi tertentu saja.

Apabila sang anak sampai berpikiran demikian, maka mereka akan mencari kasih sayang tersebut dari lingkungan luar. Dan yang rugi tentunya kamu sebagai orang tua, karena apabila sang anak lebih percaya kepada orang lain dibanding dirimu sendiri maka tentunya akan menjadi lebih sulit agar mereka mau mendengar perkataanmu.

Katakanlah pada sang anak bahwa kamu bersedia untuk mencintai mereka dalam segala kondisi. Hal ini akan membentuk kenyamanan dan kepercayaan penuh oleh sang anak. Apabila anak menjadikanmu sebagai prioritas utama, maka tentunya akan meminimalisir mereka untuk mencari telinga dan kasih sayang dari lingkungan luar. Dan kamu menjadi tidak perlu khawatir apabila anak mendapatkan pengaruh dari luar karena mereka lebih mendengarkan ucapanmu dibandingkan ucapan orang lain yang mereka temui nantinya.

Nah, jadi gimana Moms? Sudah siap menjadi orang tua sekaligus sahabat bagi sang anak? Kalau kamu punya tips parenting lainnya, yuk sharing di kolom komentar!

 

IndahLadya


Baca Juga :

Mengapa Anak Menjadi Tidak Jujur?
Mendidik Anak Menjadi Bilingual
Cita-Cita Atau Sekedar Ambisi Orang Tua?

13 comments:

  1. Yahh semoga kelak aku bisa nerapin ke anakku nanti

    ReplyDelete
  2. Sayangnya nggak semua orangtua kayak artikel ini. Contohnya orangtua saya. Untungnya saya nggak tumbuh jadi anak nakal aja udah bersyukur. Untungnya juga saya bisa jadi orang sukses dan tidak sampai harus membenci orangtua saya sendiri. Saya toh tetap sayang mereka, tanpa sifat keras mereka saya nggak akan belajar.

    Terkadang orangtua berpikiran bahwa anak diperlakukan dengan kekerasan (sewajarnya) untuk mendidik mereka agar jadi orang baik.

    Mau tidak mau; sadar tidak sadar, sifat keras itu akhirnya membekas dalam diri saya dan terkadang pun saya memperlakukan anak-anak saya seperti itu, meski saya tahu hal itu buruk bagi perkembangan anak-anak.

    Kesimpulannya : Tidak semua orangtua bisa diajak jadi sahabat, dan sahabat pun terkadang bisa sangat menyebalkan.

    ReplyDelete
  3. Wah, privasi tuh, yang belum dilakukan, hehe. Anak saya sudah agak besar, takut banyak yang disembunyikan jadi saya harus tau segala sesuatu. Kamar ditutup apalagi dikunci bisa mencurigakan, suka saya larang.

    ReplyDelete
  4. Iya nih, terkhusus meminta maaf pada anak rasanya perlu lebih gencar dibudidayakan, karena ortu yang seringkali merasa lebih senior dibanding anak, padahal keduanya sama-sama belajar. Terima kasih Mba sharingnya, jadi penyegar untuk mengevaluasi diri ❤

    ReplyDelete
  5. Wah mbak suka banget artikelnya, bekal buat kami calon orang tua. Tapi, yah namanya manusia mungkin gak bisa menjadi orang tua sempurna tapi kita selalu beruhasa memberian yang terbaik buat anak kita kelak. Nice sharing mbak. Suka deh baca tentang parenting kayak gini.

    ReplyDelete
  6. Aku jadi teringat pada saat traveling, salah satu teman traveling yang kebetulan membawa keluarga mengumpulkan keluarganya, berdiskusi dan ayahnya meminta maaf ke anak tertuanya yang baru berusia sekitar 9 tahun karena khilaf menegur anaknya yang sebenarnya tidak bersalah. Menurutku itu KEREN. Berani mengakui kalau kita salah apalagi ke anak, menurutku akan mengajarkan anak untuk bersikap jujur dan berani mengakui kesalahan besarnya nanti

    ReplyDelete
  7. Kayaknya yg bisa dibicarakan lebih jauh adl memberikan ruang privasi. Untuk unconditional love, orang² jaman dulu sering bilang,"ibu/bapak melakukan ini (memarahi/mengingatkan) karena ibu/bapak sayang kamu. 😁

    ReplyDelete
  8. Uwaaaa artikelnya keren banget. Terima kasih ulasannya, mbak. Jadi catatan penting buat sy nih, sebagai calon orang tua

    ReplyDelete
  9. Artikelnya benar-benar relate banget sama kehidupan sehari-hari. Mamaku dan papaku selalu menerapkan sikap demokratis, alias anaknya boleh memilih pilihannya sendiri sembari diarahkan dan dikasih tau mana yang baik dan mana yang buruk. Itu sih pas masih kecil, setelah dewasa mama sama papa akhirnya cuma ngasih masukan, pilihan tetap berakhir di anak. Semoga kelas bisa menerapkan apa yang diajarkan ortu dan tips di artikel ini aminn

    ReplyDelete
  10. punya ortu rasa sahabat tuh kadang sampe lupa kalo beliau ortu mba, hahaha. cerita apa aja keluar. betul, dengan mau mendengarkan anak, memberikan privasi, mengikutsertakan dalam keputusan keluarga, itu bikin anak merasa dianggap sih. makasih udah bikin tulisan ini ya mba, semoga besok juga aku bisa begini ke anakku hehehe.

    ReplyDelete
  11. Jadi orang tua jangan anak adalah benda miliknya yang bisa diperlakukan apa saja . Bagus nih Mbak, buat pelajaran parenting..

    ReplyDelete
  12. Pengen banget jadi orang tua yang kompak dan akrab dengan anak-anaknya layaknya sahabat..harus mulai diperjuangkan dari sekarang yaa...

    ReplyDelete
  13. Setuju banget sama artikel ini, walaupun aku belum menikah dan punya anak haha, jadi masih di perspektif sebagai anak.

    Bisa dibilang generasiku sekarang ini di dalam keluargaku masih di perubahan fase jaman dulu dan jaman sekarang, terutama dengan ibuku, karena ibuku dulu didik oleh eyangku juga strict.. untungnya dari keluarga ayahku mengimbangi, jadi bisa ngebedain dan mengambil pelajaran baik dan kurangnya parenting style dari ayah dan ibuku haha

    Mungkin itu juga kenapa ibuku taunya aku itu anak rumahan yang penakut dan pendiam, padahal aku suka traveling suka cari pengalaman baru dan bertemu dengan orang-orang baru haha

    ReplyDelete

Everything About Ladya . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates