Saturday, August 7

Merdeka dari Pandemi
Merdeka dari Pandemi (indahladya.com)

Siapa sih yang nggak mau segera merdeka dari pandemi? Terlebih lagi seringkali timbul desas-desus masyarakat, seperti “kapan sih pandemi ini berakhir? Di-lockdown gini jadi makin susah nih mau ngapa-ngapain!”

Setidaknya keluhan-keluhan seperti inilah yang seringkali aku lihat, mulai dari WhatsApp group arisan mama, atau bahkan disampaikan oleh tetangga sekitar sendiri secara langsung.

Tidak bisa dipungkiri, melonjaknya kasus infeksi Covid-19 ini menyebabkan pemerintah harus bisa memikirkan win-win solution agar pandemi ini bisa teratasi dengan baik sehingga kita bisa merdeka dari pandemi, tanpa perlu mengorbankan pihak manapun. Sayangnya, pada kenyataannya nggak mungkin semudah itu.

Dulu kita sudah pernah melalui masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), di mana beberapa kegiatan seperti sekolah dan bekerja cukup dilakukan dari rumah. Belum lagi perihal pembatasan transportasi yang dulu sempat memberlakukan ojek online (transportasi roda dua) tidak diperbolehkan mengangkut penumpang, hanya untuk mengangkut barang.

Pada kondisi ini mungkin beberapa pihak yang diberi kemudahan, seperti para pekerja yang masih diberi kesempatan untuk melakukan work from home (WFH), tentunya tidak merasa sekhawatir orang-orang yang masih harus bepergian keluar rumah jika ingin mendapatkan rupiah di hari itu.

Dulu aku berpikir bahwa permasalahan ini hanya seputar latar belakang ekonomi saja. Di mana kaum ekonomi menengah ke atas biasanya akan teriak protokol kesehatan, sedangkan kaum ekonomi menengah ke bawah justru jadi teriak kelaparan. Karena nyatanya tidak semua orang bisa bertahan untuk berdiam diri di rumah namun tetap mendapatkan penghasilan di setiap bulannya.

Sayangnya ternyata anggapanku ini tidak sepenuhnya benar, karena nyatanya masih banyak orang-orang dengan keadaan ekonomi menengah ke atas menginginkan suatu kebebasan yang lebih. Bahkan uang bulanan dari hasil WFH sepertinya tidak bisa untuk mencukupi kepuasan mereka pribadi.

Masih banyak orang yang mengaku stres karena terlalu banyak berdiam diri di rumah, yang notabenenya sudah dilengkapi fasilitas yang mumpuni, perihal alasan untuk sekedar cuci mata, menikmati sensasi menyeruput kopi di coffee shop, atau bahkan berbelanja di offline store yang katanya bisa menghasilkan sensasi berbeda dibandingkan berbelanja di online store.

Hingga pada akhirnya, aku mulai menyadari, apakah ini yang disebut sebagai keberagaman masyarakat Indonesia dalam menilai suatu permasalahan?

Indonesia, Satu dengan Keberagaman

Keberagaman Masyarakat Indonesia
Keberagaman Masyarakat Indonesia (indahladya.com)

Indonesia memang dikenal sebagai negara kepulauan dengan suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Keberagaman dalam berbahasa dan adat istiadat yang berlaku tentunya menjadi sebuah kebanggaan bagi semua bangsa yang tinggal di dalamnya.

Baru-baru ini aku sempat mencari tahu perihal keindahan dan pesona alam yang dihadirkan dari Indonesia bagian timur. Dan tentu saja aku dibuat takjub dari setiap penemuan yang aku dapatkan di sana, meskipun baru bisa dilakukan lewat dunia maya saja.

Bayangkan, dari satu wilayah bagian Indonesia saja, kita bisa berhasil menemukan begitu banyak keberagaman yang ada di dalamnya. Mulai dari bahasa, suku bangsa, adat istiadat, hingga keindahan alam yang ditawarkan di sana tentunya sudah cukup menjelaskan bahwa negara kita ini memang menganut semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Keberagaman Pola Pikir Masyarakat Indonesia

Keberagaman yang ada di Indonesia saat ini seharusnya berhasil membuat setiap masyarakatnya bangga atas apa yang mereka miliki. Namun, tidak dengan keberagaman pola pikir dalam menyikapi pandemi Covid-19 saat ini.

Jika berbicara mengenai vaksin, yang kini seolah menjadi jawaban bagi kita untuk bisa merdeka dari pandemi, pasti akan ada banyak sekali pro dan kontra yang akan saling bersikeras satu sama lain. Bukan berdasarkan latar belakang pendidikan, latar belakang ekonomi, atau bahkan latar belakang usia.

Hal inilah yang membuatku tersadar bahwa sebenarnya masalah ekonomi bukan satu-satunya penyebab utama dari lahirnya keberagaman pola pikir dalam menyikapi pandemi Covid-19 ini.

Keberagaman Pola Pikir
Keberagaman Pola Pikir (indahladya.com)

Jika ditarik garis sedikit ke belakang, sebelum pandemi ini menyerang, sebenarnya sudah sangat banyak perbedaan pendapat dalam kebijakan yang ada di negeri kita saat ini. Contohnya perihal imunisasi.

Kalian pastinya sudah sering mendengar beberapa oknum yang membanggakan anaknya atau bahkan dirinya sendiri yang katanya sih tetap sehat meskipun tanpa imunisasi. Loh kok bisa begitu ya?

Ternyata anak-anak yang tetap sehat meskipun tanpa imunisasi ini dapat dijelaskan dengan konsep kekebalan kelompok. Di mana jika suatu wilayah sudah mencapai batas minimal dari syarat efektivitas imunisasi/vaksin, maka sebagian kecil orang yang tidak diimunisasi akan mendapatkan kekebalan tubuh dari orang-orang di sekitarnya yang sebagian besar sudah diberikan imunisasi/vaksin.

Beberapa jenis penyakit sudah terbukti dapat diatasi dengan adanya vaksin, contohnya polio. Sebagaimana yang kita tahu bahwa sejak tahun 2014, WHO telah menetapkan Indonesia sebagai negara yang terbebas dari polio, yang mana hal ini bisa menjadi salah satu bukti efektivitas imunisasi lengkap pada anak Indonesia.

Dalam hal pandemi Covid-19 saat ini, dibutuhkan setidaknya 60% orang yang telah berhasil divaksinasi Covid-19 agar terbentuk kekebalan kelompok demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dari pandemi. Di mana hal ini diharapkan mampu mencegah penularan karena sebagian besar masyarakat memiliki kekebalan tubuh yang baik. Hingga pada akhirnya nanti masyarakat yang sehat akan tetap sehat, termasuk mereka yang tidak bisa divaksinasi karena faktor usia dan gangguan imunitas.

Nah, kira-kira kekebalan kelompok ini bisa terbentuk nggak nih kalau lebih banyak orang yang kontra ke vaksin? Jawab sendiri-sendiri aja ya, hehe.

Tanggapan Masyarakat Indonesia Terhadap Pandemi Covid-19

Sejujurnya aku sudah cukup kagum dengan jerih payah pemerintah Indonesia dalam menghadapi badai pandemi Covid-19 saat ini. Meskipun dengan beberapa kekurangan, namun yang pasti aku percaya bahwa tidak ada orang yang tidak ingin pandemi Covid-19 ini segera berlalu. Semua pasti mengharapkan agar kita bisa segera merdeka dari pandemi saat ini, apalagi seorang pemerintah yang memiliki tanggung jawab besar terhadap rakyat-rakyatnya.

Kendala untuk Merdeka dari Pandemi
Kendala untuk Merdeka dari Pandemi (indahladya.com)

Sayangnya, keberagaman dari berbagai tanggapan masyarakat Indonesia membuat beberapa peraturan sulit untuk ditegakkan secara sempurna. Akan selalu ada oknum-oknum yang membandingkan kebijakan pemerintah kita sendiri dengan pemerintah di negara yang lainnya, yang notabenenya sudah menjadi negara maju dengan pola pikir masyarakat yang berbeda pula dengan yang ada di negara kita saat ini.

Sebagai contoh kecilnya, kompleks tempat tinggalku saat ini berhasil melakukan lockdown lokal yang mengharuskan seluruh masyarakat yang terlibat di dalamnya menghentikan mobilitas untuk keluar-masuk dari kompleks ini sendiri.

Beberapa orang mungkin akan menanggapinya dengan buruk, sebagaimana peraturan yang katanya ribet dan mempersulit orang-orang di dalamnya. Namun, tidak sedikit juga yang merasa kagum dengan peraturan ini sendiri.

Contohnya salah seorang temanku yang mengungkapkan kekagumannya terhadap ketegasan dari peraturan yang ada di kompleksku saat ini. Namun, hal yang bisa aku ungkapkan adalah ketegasan dari peraturan ini didukung dengan adanya lebih banyak orang yang setuju dibandingkan orang yang tidak setuju.

Terlebih lagi kompleksku saat ini mungkin hanya terdiri dari sekitar 700 kepala keluarga. Tidak setara jika dibandingkan dengan pemerintah Indonesia yang harus mengatur 271.349.889 jiwa yang ada. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, tingkat ekonomi berbeda, yang menghasilkan pola pikir yang berbeda juga.

Nah, komparasi antar daerah di Indonesia pun tidak bisa dijadikan perbandingan yang setara, apalagi jika kamu berusaha membandingkan kebijakan negara kita dengan negara lainnya yang pastinya juga memiliki keadaan yang berbeda untuk bisa segera merdeka dari pandemi.

Vaksin Sebagai Bukti di Atas Kertas

Vaksinasi Covid 19
Vaksinasi Covid-19 (indahladya.com)

Terlepas dari berbagai tanggapan masyarakat yang ada, kini pemerintah mulai memberikan angin segar sebagai upaya demi terwujudnya Indonesia yang merdeka dari pandemi, yaitu vaksinasi Covid-19.

Semakin melonjaknya kasus positif infeksi Covid-19 saat ini mendorong pemerintah untuk menggiatkan pemberian vaksin di setiap harinya untuk dapat mencapai herd immunity.

Salah satu kebijakan terbaru selama PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) ini, yaitu kebijakan wajib vaksin minimal dosis pertama sebagai syarat terbang. Awalnya hal ini diberlakukan untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi ini sendiri. Di mana hal ini merupakan salah satu langkah konkret demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dari pandemi.

Namun, entah perihal sosialisasi yang kurang meluas atau karena rendahnya kesadaran masyarakat ini sendiri, justru bermunculan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menjual sertifikat vaksinisasi palsu. Di mana beberapa orang yang ingin mendapatkan sertifikat sebagai syarat bepergian mereka, bisa mendapatkan sertifikat vaksin tersebut tanpa harus melakukan vaksinasi secara real, entah karena alasan kepepet atau karena memang nggak pro ke vaksinnya aja.

Hal ini semakin membuatku menggeleng-gelengkan kepala, betapa beragamnya pola pikir masyarakat dalam menanggapi kesulitan sekaligus kesempatan yang ada. Padahal kalau dipikir-pikir kan vaksin ini disediakan secara gratis oleh pemerintah Indonesia, tapi kok ada aja sih yang mau spending uang ratusan ribu milik mereka untuk bisa mendapatkan sertifikat vaksinasi palsu tersebut. Di luar nalar sekali, bukan?

Urgensi Herd Immunity untuk Indonesia Merdeka dari Pandemi

Sebagaimana yang sempat disinggung sebelumnya, goals utama dari vaksinasi ini adalah herd immunity, demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dari pandemi. Menurut kemkes.go.id, herd immunity atau kekebalan kelompok adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut.

Herd Immunity
Herd Immunity (indahladya.com)

Jadi, ketika kamu berpikir bahwa kamu bisa bebas bepergian dengan sertifikat vaksinasi palsu tersebut, maka sebenarnya hal ini menggeser goals utama negara kita saat ini. Meskipun bisa aja sih herd immunity ini didapatkan dari kekebalan tubuh alami pasca terinfeksi Covid-19 ini sendiri. Namun, hal ini berarti mengharuskan berjuta-juta orang terinfeksi Covid-19 terlebih dulu. Yang mana hal ini akan menimbulkan kematian yang sangat tinggi karena Covid-19 memiliki case fatality rate sebesar 3,4% (alomedika.com).

Nah, atas dasar alasan inilah yang membuat pencapaian herd immunity, demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dari pandemi, melalui infeksi alami dinilai tidak realistis. Toh, siapa jamin kan kalau kita masih bisa bertahan dari masa pasca-infeksi ini? Yaa okelah, mungkin kamu bisa, karena alasan kekebalan tubuh yang memang baik karena faktor usia dan sebagainya, tapi bagaimana dengan orang tuamu, kakekmu, dan nenekmu? Akankah kita menjadi pribadi yang egois demi mencapai herd immunity melalui infeksi alami ini?

Benarkah Bahwa Hak Bersifat Bebas?

Berbicara mengenai pro dan kontra vaksin, pastinya hak adalah hal yang dijadikan alasan mendasar untuk bebas menentukan pilihan hidup kita sendiri. Iya apa iya?

Jangan tentang vaksin dulu deh, perihal sederhana aja yang sering kita temui sehari-hari, rokok misalnya. Para perokok pastinya bepikir bahwa tidak ada orang yang berhak melarang untuk mengisap rokok miliknya, toh dia bayarnya pake duit sendiri, kan? Intinya, “ya ini kan hak aku!”

Padahal si perokok ini lupa bahwa sebelum menuntut hak, kita perlu menunaikan kewajiban kita terlebih dahulu. Hak memang bersifat bebas, namun kebebasan hak ini tetap dibatasi oleh hak-hak lain dari orang di sekitarnya. Jadi kalau memang mau merokok sih boleh aja, tapi kalau sampai mengganggu hak orang lain yang ingin menghirup udara bersih, bukankah itu sama saja si perokok ini sudah tidak berhasil menunaikan kewajibannya karena melanggar hak orang di sekitarnya?

Nah, begitu juga dengan vaksin. Mungkin kamu berpikir bahwa kamu berhak untuk menolak vaksin karena setiap orang bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Namun, bukankah salah satu kewajibanmu adalah untuk menjadi rakyat yang taat hukum?

Dikutip dari jurnal RechtsVinding yang berjudul Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia: Hak atau Kewajiban Warga Negara, menyatakan bahwa vaksinasi dalam rangka penanganan Covid-19 adalah suatu hak sekaligus kewajiban dari warga negara.

Hak dan Kewajiban Vaksinasi
Hak dan Kewajiban Vaksinasi (indahladya.com)

Mungkin hal ini bisa disebut sebagai hak untuk memilih pelayanan kesehatan yang sesuai baginya. Namun, bila dilihat dari konteks virus Covid-19 yang berskala pandemi, maka seseorang yang tidak divaksin bisa berpotensi menjadi virus carrier bagi orang lain, sehingga dapat menghambat proses menuju Indonesia yang merdeka dari pandemi.

Dalam hal ini, telah menjadi kewajiban setiap warga negara untuk mencapai tujuan negara, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk melindungi hak asasi orang itu sendiri dalam rangka memperoleh hak untuk hidup secara sehat.

Oleh karena itu, vaksinasi yang mulanya merupakan suatu hak dapat berubah menjadi kewajiban asasi manusia untuk menghargai hak asasi orang lain, dalam hal ini adalah hak atas kesehatan orang lain. Gimana, jadi nggak bingung lagi kan perihal hak dan kewajiban ini?

Merdeka dari Pandemi : Jangan Jadikan Keberagaman Sebagai Rintangan!

Upaya Merdeka dari Pandemi
Upaya Merdeka dari Pandemi (indahladya.com)

Jujur saja, aku cukup merasa prihatin dengan beberapa oknum yang sudah memiliki jatah dan izin vaksin namun tetap menolak vaksin itu sendiri. Karena sebagaimana yang terjadi di keluargaku, hampir semua telah berhasil divaksin kecuali beberapa orang yang memang belum diperbolehkan mendapatkan vaksin karena suatu kondisi tertentu.

Dan sebenarnya kembali lagi ke poin herd immunity demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dari pandemi, tentunya aku berharap anggota keluargaku yang memang belum mendapatkan izin dari dokter untuk melakukan vaksinasi ini tetap bisa mendapatkan kekebalan kelompok dari lingkungan sekitarnya yang telah divaksin secara lengkap. Karena siapa sih yang nggak merasa khawatir dengan keselamatan keluarganya sendiri. Kamu juga pasti merasakan hal yang sama, bukan?

Mungkin vaksin memang tidak bisa mencegah virus Covid-19 ini secara 100%, namun vaksin adalah ikhtiar sebagai pelengkap protokol kesehatan yang ada, protokol kesehatan yang selama ini sedang kita perkuat bersama untuk bisa merdeka dari pandemi.

Kita memang tidak memiliki hak untuk memaksa orang lain agar mempercayai apa yang kita percayai. Namun, dalam hal ini aku berani menyatakan bahwa tidak seharusnya keberagaman pola pikir kita dalam menilai suatu permasalahan, apalagi dalam kasus pandemi Covid-19 saat ini, menjadikan kita pribadi yang egois. Pribadi yang hanya memikirkan hak atas dirinya sendiri.

Sebagaimana keberagaman masyarakat Indonesia yang seharusnya menjadi suatu hal yang dapat dibanggakan oleh bangsanya, justru bisa menjadi boomerang terhadap masyarakat itu sendiri, contohnya keberagaman pola pikir ini.

Keberagaman tidak bisa menjadi pembenaran untuk menjadi masyarakat yang tidak patuh terhadap peraturan yang ada. Percaya atau tidaknya, mungkin memang itu menjadi hak milikmu seara mutlak, namun ikut mewujudkan hak asasi orang lain untuk bisa hidup secara sehat juga tetap menjadi kewajibanmu secara mutlak. Bukan hanya sebagai warga negara yang taat hukum, namun juga sebagai manusia yang telah dilengkapi dengan akal sehat dan hati nurani.

Jangan jadikan keberagaman pola pikir ini sebagai rintangan utama dalam menyelesaikan pandemi yang ada. Bersama kita wujudkan masyarakat yang tangguh demi menuju Indonesia bangkit dan merdeka dari pandemi. Tetap patuhi protokol kesehatan dan jangan lupa vaksin ya!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Pembuatan Konten Media Sosial dalam rangka Memperingati HUT RI ke-76 dengan tema Merdeka dari Pandemi: Bersatu dalam Keberagaman untuk Indonesia Bangkit yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY.


Referensi :

www.alomedika.com
www.covid19.go.id
www.kemkes.go.id
Gandryani, F., Hadi,F. 2021, Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia: Hak Atau Kewajiban Warga Negara, Jurnal RechtsVinding, 10(1): 23-41.

7 comments:

  1. Wah aku setuju dengan tulisanmu mba. Gimana ya, bingung juga soal pandemi ini dengan banyak pikiran yang berbeda. Mereka semua punya alasan masing-masing.. tapi aku sendiri pun nggak bisa dipungkiri kalau pandemi ini kadang bikin jenuh :"

    ReplyDelete
  2. Semoga pandemi segera berlalu. Agar kira kembali bebas berekspresi

    ReplyDelete
  3. kalau baca tulisan tentang pendemi gini, tetap rasanya nano-nano, mbak. karena kenyataan di masyarakat, memang beragam banget. semoga kita tetap kuat deh, dan pendemi ini segera berakhir, amiiiin

    ReplyDelete
  4. Sudah bukan saatnya lagi untuk saling tunjuk siapa yang salah, sekarang saatnya bersatu ya lebih kompak masyarakat Indonesia hadapi pandemi..

    ReplyDelete
  5. Sedih pandemi ini memakan puluhan ribu nyawa, semoga penanganan makin membaik dan kita juga makin kompak, patuh prokes, mau divaksin biar Indonesia segera bebas covid dan kita bisa bebas beraktivitas seperti dulu lagi aamiin

    ReplyDelete
  6. program pemerintah sebenernya udah bagus, udah ada protokol kesehatan dan vaksin, kita tinggal ngelakuin aja. soal pertanyaan kapan pandemi berakhir ini sepertinya ga begitu membantu ya, hanya memperkeruh aja rasanya, karena kita semua gatau selesainya kapan.

    ReplyDelete
  7. Aku setuju mba. Sebenernya yang kita perangi justru orang2 kita sendiri yang masih belum sadar tentang kepentingan orang banyak. Semakin sadar akan keselamatan diri,kita bisa turut menyelamatkan orang lain juga menurutku.

    ReplyDelete

Everything About Ladya . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates