Kamis, November 11

Tak Masalah untuk Menjadi Beda
Tak Menjadi untuk Menjadi Beda (indahladya.com)

Pernah merasa bahwa kamu terlalu berbeda untuk orang-orang di sekitarmu? Atau kamu justru pernah merasa bersalah karena menganggap dirimu tak bisa beradaptasi dengan baik? That’s all about my problem, but before we go, it’s okay to be different.

Ketika Seorang Introver Keluar dari Zona Nyaman

Belum lama ini, aku kembali dihadapkan pada suatu hal yang sangat tidak aku sukai, beradaptasi. Sounds like “hah?”, tapi memiliki personality yang baru di lingkungan asing memang selalu berhasil membuatku kewalahan daripadanya.

Perbedaan Pendapat
Perbedaan Pendapat (indahladya.com)

Setelah hampir berbulan-bulan berdiam diri di zona nyamanku, suatu keadaan berhasil merenggut semua kenyamanan itu dari diriku sendiri.

Mungkin belajar secara offline adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu untuk sebagian besar siswa dan mahasiswa, selayaknya aku saat ini. Tapi mungkin, aku adalah mahasiswa yang berbeda dari mereka kebanyakan.

Aku akui bahwa belajar secara offline memberikan suasana yang sebenarnya nggak bakal kita dapetin kalau kita kuliah secara online. Sayangnya, pandemi satu tahun yang lalu berhasil membuatku merasakan makna nyaman yang selama ini mungkin hanya sekedar dalam khayalan belaka.

Berkat pandemi kemarin, aku jadi bisa memiliki kendali penuh atas apa yang ingin aku lakukan. No one can bother me.

Lagipula, sebenarnya tak masalah untuk menjadi beda. Tinggal di lingkungan rumah, di mana semua anggota keluarganya paham atas personality-ku yang “berbeda” ini, menjadikanku seseorang yang jauh lebih produktif, bila berkaca dengan seonggok diriku yang baru sempat menulis bebas pada malam ini.

Stigma “Mayoritas Selalu Benar”

Sayangnya, waktu dan keadaan berhasil menarikku dari zona nyaman tersebut. Mau tak mau, aku harus kembali dihadapkan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Awalnya, rasa excited itu datang karena aku seperti bertanya-tanya “apakah hal baru ini bisa memberikanku suatu kenyamanan lebih?” No one knows, siapa tahu aku sudah bosan dengan kesendirianku kemarin, bukan?

Namun, semua itu nggak berjalan semulus yang aku bayangkan. It’s so hard for me to be the new me!

Lagi-lagi aku harus memulai suatu hal baru, menjadi diriku yang baru, dengan personality dan kebiasaan yang baru, di lingkunganku yang baru. Lengkap sudah.

Berbeda Bukan Berarti Salah
Berbeda Bukan Berarti Salah (indahladya.com)

Aku memang tidak begitu baik dalam bersosialisasi dengan orang baru, apalagi bila nyatanya orang-orang baru ini harus memberikan prejudgement yang buruk terhadap personality-ku yang mungkin sedikit berbeda dari mereka kebanyakan.

Aku kewalahan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya membuatku tak nyaman atau apapun itu yang mengganggu pikiranku, my bad.

Belum lagi ke-tidakproduktif-an ku saat ini membuatku gampang tersulut emosi karena suatu hal yang sebenarnya memiliki makna yang tidak seburuk yang aku pikirkan. Overthinking alert.

Aku bahkan sempat memaknai bahwa dunia ini terlalu jahat untuk aku yang berbeda dari sekian banyak orang. Mungkin sebagian orang mendapatkan energinya dengan cara bersosialisasi dengan orang lain, mulai dari berkumpul bersama, makan bersama, mengobrol, dan bercerita secara bebas. Meanwhile, aku hanya bisa mendapatkan energi ketika aku sedang sendiri, without anyone on my side.

Hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa tak masalah untuk menjadi beda, bahkan seharusnya hanya aku yang bisa memegang kendali penuh atas diriku sendiri. Dan ini adalah caraku untuk berdamai dengan perbedaan yang ada di dalam diriku.

Hidup Bukan Hanya Tentang Kata Mereka

Mendengarkan pendapat orang lain itu baik, namun jangan sampai hal ini membuatmu kehilangan kendali atas dirimu sendiri.

Aku sempat bertukar pendapat dengan beberapa orang dan dengan tanggapan yang berbeda pula. Satu kalimat yang sebenarnya tidak seburuk itu, namun sedikit membuka pikiranku adalah “hidup bukan hanya tentang kamu”.

Honestly, ketika aku pertama kali mendengar statement ini, aku merasa seperti orang yang benar-benar tersudutkan.

“Apakah aku salah untuk menjadi orang yang berbeda?”

“Salahkah personality-ku saat ini?”

“Haruskah aku mengedepankan kemauan orang lain dibandingkan diriku sendiri?”

Ribuan tanya langsung mengerubungi isi kepalaku pada saat itu.

But then, jika hidup ini bukan hanya tentang aku, maka seharusnya hidup ini pun bukan hanya tentang kata mereka. Kita hidup dengan semua perbedaan yang ada, dan tak ada yang salah dari hal tersebut. Mulai dari perbedaan pendapat dan sudut pandang, hingga perbedaan dalam menyikapi hal yang hadir dalam hidup kita.

Hidup Menjadi Beda
Hidup Menjadi Beda (indahladya.com)

Dan caraku dalam menyikapi pendapat orang lain, “Haruskah aku menerimanya? Haruskah aku menolaknya?” Semua itu murni atas dasar kendali penuh untuk diriku sendiri. And again, tak masalah untuk menjadi beda.

Perbedaan itu Nyata, dan Tak Masalah untuk Menjadi Beda

Lain orang, lain pula tanggapan yang aku dapatkan. Setelah pada akhirnya menceritakan masalahku dengan orang yang berbeda, nyatanya aku tidak benar-benar sendirian di dunia ini. The different person is still exist!

Aku kembali mendapatkan sudut pandang yang berbeda dari temanku yang ternyata memiliki misophonia. If you guys know, misophonia adalah kondisi di mana seseorang bereaksi terhadap suatu suara spesifik dan menimbulkan respon otomatis (fight or flight response).

Seseorang yang menderita misophonia tak jarang menunjukkan reaksi terhadap beberapa suara tertentu, yang tentunya hal ini akan menjadi aneh ketika ia bertemu dengan orang-orang yang tidak mengerti apa makna misophonia itu sendiri.

Validasi Ketika Menjadi Beda
Validasi Ketika Menjadi Beda (indahladya.com)

Pada akhirnya aku sadar bahwa seseorang akan cenderung sulit untuk merasakan suatu hal yang tidak benar-benar mereka alami. Sebagaimana problem yang hingga saat ini masih mengitari isi pikiranku, aku tahu bahwa tidak ada yang bisa memperbaiki problem ini selain dari berdamai dengan diriku sendiri dan merasa tak masalah untuk menjadi beda.

Mulai dari menempatkan diri dengan orang yang tepat, belajar untuk berkata “tidak!”, dan melihat suatu hal dari sisi yang lebih baik, perlahan telah mengembalikan energiku sedikit demi sedikit.

Bahkan sepertinya, energi itu baru benar-benar aku rasakan pada malam ini, malam di mana aku pada akhirnya berhasil memegang kembali kendali atas apa yang ingin aku lakukan sendiri. Malam di mana aku berhasil beradaptasi tanpa perlu mengubah jati diriku saat ini. Malam di mana aku merasa bahwa tak masalah untuk menjadi beda.

Berdamailah, Tanpa Perlu Saling Mengorbankan

Berdamai dengan Diri
Berdamai dengan Diri (indahladya.com)

Sejujurnya, tidak ada yang salah dari perbedaan yang kamu miliki dalam dirimu sendiri. Dan beradaptasi sebenarnya memang tidak seburuk yang aku bayangkan. Hanya saja, semua itu butuh waktu. Butuh mental dan kesiapan yang matang hingga pada akhirnya aku bisa berdamai tanpa harus merasa berkorban atas suatu hal yang sebenarnya tidak benar-benar aku inginkan.

Tak masalah untuk menjadi beda, karena setiap orang punya hak untuk memegang kendali atas pilihan hidupnya saat ini.


Everything About Ladya . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates